January 10, 2018 adminperbawani

Perbawani di Kampung Adat Megalitikum Ratenggaro

Kalau ke Sumba Barat Daya belum Ratenggaro rasanya ada yang kurang. Kampung adat ini yang terletak di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo. Lokasinya di tepi pantai dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kampung adat Ratenggaro memiliki rumah dengan atap tertinggi di Sumba, yaitu mencapai 35 meter. Kubur batu besar yang merupakan budaya megalitikum juga menjadi daya tarik.

Berangkat dari kepedulian terhadap permasalahan pariwisata khususnya di Indonesia bagian timur, PERBAWANI(Perubahan Bagi Warga Indonesia) mengunjungi Kampung Adat Ratenggaro pada tanggal 27 Oktober 2018. Bekerja sama dengan Indonesia A-Z, kami berbagi pengalaman selama satu hari dengan warga di sana.

Sejalan dengan konsep Indonesia A-Z, pemberdayaan potensi wisata di daerah dimana warga atau komunitas lokal menjadi pelaku wisata, bukan hanya sebagai penonton. Kedatangan Komunitas PERBAWANI di Ratenggaro bertujuan untuk membagikan pengetahuan dasar kepariwisataan dengan 4 ruang lingkup berikut, yaitu komunikasi dan pemasaran, manajemen bisnis, manajemen pariwisata, videografi dan fotografi.

Dibantu Yayasan Harapan Sumba untuk koordinasi dengan pihak Ratenggaro, akhirnya di 27 Oktober 2018 lalu, PERBAWANI bisa berbagi dengan warga lokal. Kedatangan kami disambut hangat oleh warga, Pak Adi sebagai perwakilan warga Ratenggaro memberikan sambutan dan juga menjadi penerjemah untuk sebagian percakapan di sana. Peserta terdiri dari 20 orang yang terdiri dari para bapak, para mama, dan anak remaja. Sambil briefing kami dijamu dengan teh dan kopi Sumba, lengkap dengan singkong dan keladi rebus. Dan Ratenggaro sudah lebih baik, tidak ada lagi anak-anak yang bergerombol minta uang ketika mobil datang seperti di tahun 2015.

KOMUNIKASI DAN PEMASARAN

Monica dan Sisca berbagi pengalaman dalam komunikasi dan pemasaran. Mereka mengajarkan bagaimana menawarkan barang dagangan kepada wisatawan yang datang tanpa terkesan memaksa atau mempermainkan harga. Salah satu aspek dalam pemasaran adalah harga, hal ini yang harus dikomunikasikan dengan jelas kepada wisatawan. Caranya dengan menuliskan harga sewa di sebuah kertas yang cukup terlihat sehingga wisatawan tidak menebak-nebak atau sungkan bertanya. Contohnya adalah harga sewa sarung/kain dan kuda. Selain tertulis, komunikasi verbal juga diajarkan, bagaimana menyapa wisatawan yang baru saja tiba untuk mengajaknya berkeliling sambil menceritakan sejarah atau budaya di Ratenggaro.

MANAJEMEN BISNIS

Dari sisi manajemen bisnis, Farah mengajarkan pengolah kacang mete yang sudah dikupas menjadi susu dengan menggunakan alat sederhana. Daerah Kodi dikenal sebagai penghasil mete terbesar di NTT. Sayangnya warga Renggaro tidak memiliki, alat pengupas kacang mete (kacip) dan tidak tahu cara mengolahnya. Mereka memanen mete dan langsung menjual tanpa mengupas kulitnya dengan harga Rp 15.000/kg. Getah mete cukup berbahaya karena bisa menyebabkan gatal dan terbakar jika terkena kulit, sehingga harus berhati-hati dalam pengupasan biji mete.

Setelah belajar membuat susu mete, para mama dan Rena menghitung harga jual untuk makanan dan minuman yang selalu ada di Ratenggaro. Seperti jamuan kami berupa teh, kopi, singkong, dan keladi bisa juga dijual ke wisatawan. Penetapan harga jual sebagai contoh dituliskan di kertas yang cukup terlihat. Selain itu, kami bertukar sudut pandang dengan para mama tentang harga kain tenun yang jutaan Rupiah. Dari sisi wisatawan bukannya tidak mau membeli kain tenun yang jutaan, tapi memang tidak semua wisatawan yang ke Sumba memiliki uang lebih untuk membeli tenun. Membeli tiket saja sebagian orang harus menabung berbulan-bulan, mungkin kain tenun yang ratusan ribu masih bisa kami beli.

MANAJEMEN PARIWISATA

Sebagian bapak-bapak mengikuti sesi manajemen pariwisata bersama Lanny. Mereka memetakan potensi pariwisata yang ada di Ratenggaro termasuk kelemahan dan kekurangannya. Di akhir sesi, beberapa potensi wisata dikemas menjadi sebuah tour keliling kampung adat.
 FOTOGRAFI DAN VIDEOGRAFI

 Dari beberapa remaja yang mengikuti sesi ini, Okta dan Peri yang paling aktif dan semangat untuk belajar fotografi. Sindy tidak hanya mengajarkan teori, tetapi mereka langsung menggunakan HP dan kamera digital. Dasar fotografi seperti komposisi, sudut pengambilan foto, dan arah cahaya diajarkan supaya mereka bisa membantu wisatawan yang datang. Kembali lagi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dimana salah satu kepuasan liburan dari kebanyakan orang adalah foto yang bagus. Salah satu hasil foto Okta adalah foto kedua di artikel ini.

MAKAN SIANG DI RATENGGARO

Kami makan siang bersama di Umah Kalada dengan nasi jagung, ayam bakar, dan ayam kuah Kodi. Jangan dibayangkan ayam bakar dengan kecap dan macam-macam bumbu. Makanan di Ratenggaro sangat sehat, mereka tidak menggunakan minyak, ayam bakar hanya diberi garam, begitu pula dengan ayam kuah. Yang unik, para mama menyiapkan nasi jagung, sedangkan para bapak menyiapkan sayur.

PRAKTEK PEMANDU WISATA LOKAL

Setelah makan siang, sesi berikutnya adalah praktek pemandu wisata. Learning by doing menjadi cara kami berbagi pengalaman dan pengetahuan di Ratenggaro. Pak Yoseph sebagai perwakilan warga menjadi pemandu wisata, Rena dan Farah menjadi wisatawan. Berkeliling kampung dimulai dari gerbang masuk. Pak Yoseph menyapa, “Selamat siang, selamat datang di Ratenggaro. Saya Yoseph akan menemani kakak berkeliling.”

Sudah ditentukan rute untuk berkeliling kampung adat jadi wisatawan bisa melihat kampung secara menyeluruh. Wisatawan sebagai tamu wajib mampir di Umah Kalada untuk menuliskan nama mereka, bukan supir atau guide saja. Akan lebih baik jika wisatawan bisa duduk dan mengobrol dengan warga, bukan cuma foto kemudian pergi.

Selain itu dengan adanya rute keliling kampung, wisatawan diarahkan untuk melihat barang dagangan warga. Contohnya di rumah Bapak Thomas yang menjual tempat kapur, jungga, parang, dan kalung. Harga benda-benda tersebut bisa ditawar, namun sebaiknya wisatawan tetap menghargai hasil karya mereka dengan tidak menawar terlalu rendah. Tempat kapur yang terbuat dari tulang berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000 tergantung besarnya.

Selama berkeliling kampung, Okta dan Peri menjadi fotografer, dan hasilnya cukup memuaskan! Mereka sudah tau kapan harus mengambil foto dengan orientasi portrait atau landscape, dan dari sudut mana.

PENUTUPAN

Kami kembali ke Umah Kalada untuk penutupan acara. Secara umum, PERBAWANI dan warga Ratenggaro sangat puas dan acara berjalan lancar. Apa yang kami ajarkan dan bagikan bukan menjadi keharusan untuk dijalankan, namun menjadi contoh bagi warga Ratenggaro. Acara hari itu ditutup dengan foto bersama dan pemberian selendang tenun khas Sumba Barat Daya sebagai tanda terima kasih dari warga.

Team PERBAWANI (Lanny dan Rena) mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu pilot project di Ratenggaro ini. Terutama untuk para wanita hebat (Monica, Sisca, Farah, dan Sindy) yang mau bergabung dan berbagi pengalaman, menyediakan waktu, tenaga, dan biaya untuk sampai di Ratenggaro ini.

Sampai Jumpa di Project PERBAWANI selanjutnya bersama Indonesia A to Z!

Artikel ini sebelumnya telah tayang di official website Indonesia A to Z tanggal 7 November 2018. Artikel dapat diakses di (Click here) 

Hubungi kami!

Bila anda tergerak untuk berkontribusi sebagai volunteer ataupun donatur dapat menghubungi kami dengan mengisi form dibawah ini